Sol Sepatu.

Banyak orang berjalan melewatiku.. Tapi, Tak seorangpun mampir untuk sekedar singgah dikursi rotan ini. Panas semakin terik menyengat, tidak apa jika lapar masih bisa kutahan. Hal yang paling penting, aku masih bisa berusaha, tidak meminta. Aku selalu siap, jika sepatumu rusak, atau membutuhkan sebuah polesan, agar terlihat baru.. .. Tidak apa jika hari ini, belum … Lanjutkan membaca Sol Sepatu.

Damai Bersamamu.

Aku Termenung Di Bawah Mentari Di Antara Megahnya Alam Ini Menikmati Indahnya Kasih-Mu Kurasakan Damainya Hatiku Sabda-Mu Bagai Air Yang Mengalir Basahi Panas Terik Di Hatiku Menerangi Semua Jalanku Kurasakan Tenteramnya Hatiku' Jangan Biarkan Damai Ini Pergi Jangan Biarkan Semuanya Berlalu Hanya Pada-Mu Tuhan Tempatku Berteduh Dari Semua Kepalsuan Dunia Bila Ku Jauh Dari Diri-Mu … Lanjutkan membaca Damai Bersamamu.

Jangan berhenti membaca, meskipun kita tak pernah sampai pada pemahaman kita, tak pernah tahu kapan kita bisa jadi orang pandai seperti orang-orang pandai disana..

Aku ingin berhenti membaca, aku ingin berhenti belajar. Karena hanya kebodohan yang kudapat. Karena semakin aku belajar, semakin banyak hal yg tidak aku ketahui. Namun ketika aku hendak berhenti membaca, aku malu dengan mereka yang terus membaca, meskipun mereka juga tidak tahu kapan mereka akan sampai pada sebuah pemahaman, kepandaian dan kebenaran. Akhirnya, kuputuskan untuk; … Lanjutkan membaca Jangan berhenti membaca, meskipun kita tak pernah sampai pada pemahaman kita, tak pernah tahu kapan kita bisa jadi orang pandai seperti orang-orang pandai disana..

Tertidur Aku.

Tertidur aku dibarisan para pejuang. Menunduk merindu hingga ke angkasa. Menghujam asa, memecah cahaya. Bagai bima sakti, terbang tinggi tanpa batas. Bersama doa para malaikat. Menjaga kedua mata. tertunduk luka. Berharap sayap terbang tumbuh. berlari kembali tanpa jeda. mengusap keringat, menggores cerita. Kubasuh wajahku, dengan air  wudhu ini. masih aku disini, diantara rindu dan pilu. … Lanjutkan membaca Tertidur Aku.

Gus Mus : Diterbangkan Takdir

Diterbangkan takdir aku sampai negeri-negeri beku wajah-wajah dingin bagai mesin menyambutku tanpa menyapa kutelusuri lorong-lorong sejarah hingga kakiku kaku untung teduh wajahmu memberiku istirah hangat matamu mendamaikan resahku maka kulihat bunga-bunga sebelum musimnya gemuruh mesin terdengar bagai air terjun dan guguran daun-daun meruap aroma dusun maka dengan sendirinya kusebut namamu dan terus kusebut namamu aku … Lanjutkan membaca Gus Mus : Diterbangkan Takdir