Tidak Boleh Terlalu Percaya Dunia Maya.

Banyaknya sosial media saat ini, malahan menggantikan manusia sosial yang sebenarnya. banyak orang punya teman disosial media tapi tidak punya teman dikehidupan nyata.

Banyak orang peduli terhadapnya didunia maya, tapi dikehidupan nyata tidak ada yang membantunya.

Banyak orang populer, terlihat kaya, terlihat sukses, terlihat punya banyak teman disosial media, namun dikehidupan nyata ketika dia ada kesulitan tidak ada yang membantunya.

Iya, itulah nyatanya yang ditemui, dunia sudah berubah jadi digital sampai sosial jadi digital ada baiknya pasti ada tidak baiknya, semua sudah diciptakan berpasang-pasangan.

Hingga bagaimana cara kita melihat seseorang bisa dilihat dari sosial media, ini yang berbahaya untuk orang yang mungkin masih awam dengan teknologi.

Banyak orang yang ketika melihat status orang langsung menyimpulkan keadaan seseorang itu seperti apa, padahal tidak juga. itu hanya sosial media, jangan biarkan diri kita menjadi punya persepsi kepada orang lain yang tidak baik hanya karena melihat sosial media.

Menurutku semua orang sama, sama-sama ingin dihargai dan diakui dan diperhatikan. maka dari itulah ketika dia tidak mendapatkan perhatian dari dunia nyata dia akan lari kedunia digital / sosial media tersebut.

Terkadang, seseorang yang terlalu percaya dengan kondisi seseorang didunia maya akan terlalu percaya dan terlalu mudah menyimpulkan seseorang, padahal tidak seperti itu.

Jangan sampai, hanya karena melihat sosial media / dunia maya seseorang akan merubah kita menjadi membenci ataupun berubah untuk berteman dengan seseorang. meskipun memang kadang kita temui posting yang mungkin membuat kita tidak suka atau kurang sependapat, namun itu menurut saya adalah pendapat seseorang, opini, suara yang ingin disuarakan, itu haknya mereka.

Pernah aku ingat suatu perkataan iman al ghazali kalau tidak salah atau jalaludin rummi, mengenai kebenaran. terkadang orang lain menyalahkan seseorang yang menurut dia tidak benar, padahal belum tentu benar.

Setiap orang memiliki kebenaran yang didapatkan dari sudut pandang, pikiran yang dianugrahkan Tuhan oleh apa yang dia alami. jika diibaratkan adalah seperti sebuah cermin utuh yang dipecahkan, dan serpihan-serpihan itu diambil oleh setiap orang umat dimuka bumi. semua pecahan itu adalah cermin kebenaran dari Tuhan sesuai keyakinannya. Jadi, setiap orang sebenarnya memiliki kebenaran, hanya saja terkadang ada orang yang mengejudge sehingga seolah diri kita adalah orang yang salah dan tidak memiliki hak untuk benar.

Aku sebut ini bertoleransi dan menghargai sebuah pendapat. izinkan saya berpendapat tuan 😀

Menyambung yang tadi, mengenai sosial media. disana banyak orang sebenarnya berpendapat sesuai apa yang dia rasakan, sesuai apa yang dia alami dan sesuai apa yang dialami. itulah pendapat yang bebas diutarakan kedunia maya.

Nah, kebebasan inilah yang terkadang bisa menimbulkan asumsi banyak orang yang bermacam-macam. nah yang paling penting ya tidak terlalu mempercayai apa yang ada didunia maya agar kita punya batasan diri, agar kita punya jarak bahwa sebenarnya kita harus hidup didunia nyata, lihat sekeliling banyak hal yang tidak kita temui hanya sekedar didunia maya.

Terkadang menjauhkan yang dekat meskipun mendekatkan yang jauh. semoga saya bisa belajar dengan catatan ini, sebagai evaluasi dan juga pengingat diri 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s