Resiko Ketika Buat Bisnis dengan Sahabat. Inspire : Bapak Dahlan Iskan

Seminar Entrepreneurship
Source : Muhammad Farid Ramdani

Dalam beberapa buku bisnis menyatakan bahwa bisnis itu adalah tentang bagaimana membuat, bermanfaat, berbagai teori efisiensi untung dan rugi, yang saya tahu disitu adalah mengenai perhitungan yang mungkin jauh dari hal yang yang dikiranya adalah sebuah kesederhanaan cerita. namun, ini juga masih catatan saya pribadi, seseorang yang masih mencoba menulis hasil dari kejadian dilapangan. yang kusebut ini adalah ilmu pengetahuan dalam penelitian.

Bahkan sekarang saya berada ditengah-tengah bisnis orang lain, hanya saja saya membantu mengenai pengembangan Teknologinya untuk membantu perusahaan/organisasi agar bisa lebih baik.

Ditengah model bisnis yang bermacam-macam ini, yang menurut referensi dan saya pribadi masih perlu dibenahi, nyatanya model bisnis telah lebih dulu membiayai saya makan selama ini. Kusebut itulah berkah rezki.

Berbicara mengenai bisnis model dan juga bagaimana cara bisnis berkembang lebih baik tentunya ada ilmunya, makanya ada dan didirikan berbagai sekolah bisnis yang bayarnya juga tidak murah itu. berbagai buku yang menjelaskan mengenai model bisnis juga tidak murah harganya. berarti memang ini merupakan hal yang menarik untuk diperbincangkan.

Baiklah, dibeberapa informasi mengenai resiko bisnis dengan sahabat yang saya juga masih coba pahami lebih lanjut mungkin seperti ini.

Kurangnya profesional, mungkin dikarenakan berbeda jika kita berbisnis dengan orang lain kita tidak lagi ada ikatan emosional, jika tidak sesuai dengan target yang ditentukan kita bisa dengan tegas menyatakan ini salah atau kurang sesuai.

Namun, tentunya berbeda dengan ketika kita dengan teman / sahabat. ketika kita ada hal yang ingin kita sampaikan itu salah, kita akan lebih mempertimbangkan terlebih dulu (menggunakan emosi) apakah yang kita katakan itu salah, apakah yang kita katakan tadi menyinggung orang tersebut, padahal kita tidak mau gara-gara bisnis kita bisa kurang harmonis dengan sahabat kita.

Nyatanya yang dialami dalam study kasus dilapangan mengenai persahabatan, kita tidak mungkin terlalu menerapkan disiplin tinggi (karena yang penting asalkan semua nyaman) berbeda jauh dengan bisnis (sedangkan bisnis adalah tentang kepercayaan dan disiplin) saya juga belum tahu untuk hal satu ini. namun yang coba untuk berpendapat sesuai dengan yang saya dapat adalah, ketika kita bisnis dengan teman atau sahabat secara tidak langsung terjadi bias, terjadi hal bagaimana kita harus bersikap profesional (dalam bisnis) dan bersifat (care) sebagai sahabat. kedua hal tersebut berbeda. itu yang terjadi. itupun juga masih pengalaman yang  masih sedikit ini, mungkin jika ada referensi lain dan sudut pandang lain.

Aku jadi ingat, untuk kasus yang satu ini ketika saya mendatangi seminar entrepreneurship oleh pak dahlan iskan, bahwa bisnis dengan sahabat bisa berjalan baik jika satu sama lain cocok untuk bisa jadi keduanya (bisa jadi rekan sahabat dan cocok juga untuk rekan bisnis) namun tidak jarang, bahwa yang cocok sebagai sahabat belum tentu cocok untuk rekan bisnis. ketika kita coba ajak untuk bisnis namun tidak sesuai dengan kebutuhan bisnis yang sedang dijalankan ujungnya adalah nanti ada hal yang kurang karena memang seharusnya kandidat harus sesuai dengan kompetensi yang dimilliki (Itu salah satu tujuan interview HRD dalam setiap perusahaan) bukan asal ajak saja meskipun sahabat sendiri. (masih mendacari lebih banyak referensi juga)

Namun, kesimpulan yang ada pada seminar entrepreneuship oleh Bapak idola saya itu, Bapak Dahlan Iskan itu adalah, jika bisnismu tidak cocok dengan temanmu, berhenti saja, cari yang cocok, sudah itu aja. jangan sampai berlarut-larut.

Orang berbisnis itu tidak bisa dipaksakan, mungkin kamu cocok dengan sahabatmu untuk hal persahabatan, namun belum tentu untuk bisnis, kenapa ? karena ada hal yang perlu dipertimbangkan dan tentunya segmentasinya juga berbeda. Kecuali orientasi, Visi, kesepakatan masing-masing bisa dibicarakan, tentunya dalam pertemanan kita tidak ingin satu sama lain mendominasi (Karena azas pertemanan adalah kesepakatan) sedangkan untuk azas dalam bisnis (semua harus struktural dan ada yang mendominasi).

Jadi, jika kamu merasa cocok dengan sahabatmu / temanmu untuk hal bisnis bersama ya bagus bisa diteruskan, tapi jika tidak mungkin lebih baik berhenti dan cari yang lain yang memang sesuai, tapi bukan untuk saling tidak bersahabat lagi salah itu, disinilah yang kadang salah paham, ketika melibatkan bisnis dengan emosional, akhirnya berhenti berbisnis namun juga berhenti dalam berteman jadinya campur aduk..

Padahal bisnis ya bisnis, teman ya tetaplah teman atau teman tapi berbisnis ? Nah, boleh juga tuh, asalkan berbagai hal kesepatakan telah sama-sama sepakat, kayak ijab.

Halah, lagi ngomong apa saya ini, terlalu serius untuk jumat pagi dengan secangkir KOPI eh TEH untuk kali ini.

Red – Bapak Dahlan Iskan.

CGK, M. Nahrowi, 20 April 2018. Pagi dengan Secangkir Teh.

*Diskalimer : Semua konten ini masih berupa opini, karena belum ada data penelitian, semua masih berupa studi kasus yang bersumber dari pengalaman pribadi dan juga referensi dari beberapa buku. bukan yang layak untuk dijadikan referensi karena masih perlu banyak sudut pandang dan juga masukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s