Tukang Jamu yang Pegel Linu

Panas namun ingin hujan dikota bogor, mendadakan keserasian yang sedikit membingungkan. sama seperti tulisan ini, dari judulnya saja sudah sedikit membingungkan. kenapa ?
tukang jamu kok pegel linu, harusnya kan seorang tukang jamu itu lebih sehat soalnya dia jualan jamu jadi minimal testimonialnya diri sendiri. nah itu yang mungkin akan coba dibahas disini.

Mungkin itu yang saya petik mengenai ilmu juga, bagaimana maksutnya ? pernahkah kita berfikir tentang ilmu yang kita pelajari. dari mulai sekolah dasar, hingga sampai ke jenjang sarjana. untuk apakah ilmu itu ? tentunya ilmu yang bijak harus bermanfaat.

Setiap orang punya caranya tersendiri untuk jadi bermanfaat yang masing-masing itu berbeda satu sama lainnya.

Nah, melanjutkan yang tadi, begitupun juga ilmu yang kita pelajari dan kita cari dari kecil hingga dwewasa, setelah kita sudah mendapatkannya lalu untuk apa ? sedangkan kita tahu bahwa kita belajar banyak ilmu, mulai dari matematika, fisika, biologi, manajemen, akuntansi, teknologi hingga marketing juga ada.

Setelah kita mengantongi semua ilmu itu, lalu jadi apakah kita seharusnya ? banyak orang melihat ketika kita sudah mencapai jenjang tersebut kita sudah mencapai tahap yang sudah cukup aman dan terlihat mapan. namun, kadang kita sadari kita sendiri berkata pada diri sendiri, ilmunya masih kurang, dan harus kejenjang yang lebih tinggi lagi. semua terlihat sawang sinawang kalau kata orang jawa.

Mungkin ini juga yang disampaikan oleh sahabat nabi, sayyidina ali bin abi thalib.. bahwa hal didunia ini yang tidak akan puas salah satunya adalah mencari ilmu dan ilmu.

Kita ambil contoh untuk seorang jenjang dibidang marketing, karena mungkin ini yang lebih mudah dilihat. orang marketing belajar apa sih ? setelah saya tanya-tanya ternyata ya mereka belajar memasarkan, salah satunya yang mereka pasarkan adalah diri sendiri. maksutnya personal branding. namun percaya apa tidak dari sekian ilmu yang dipelajari mungkin hanya sedikit yang diterapkan kediri sendiri. misalnya seperti ini. ini mungkin contoh dalam buku yang pernah saya baca.

Dalam sebuah kelas marketing bisnis di universitas indonesia, seorang dosen bertanya kepada mereka, semua yang ada disini yang mendapatkan nilai A pada pelajaran pengantar marketing siapa ? hanya beberapa anak yang mengacungkan tangannya, oh ada 5 ternyata setelah dihitung.

Lalu, dosen bertanya lagi, dari 5 anak ini, yang sudah punya pacar siapa ? 5 anak tadi hanya diam saja sambil senyum.

Dosen menjawab lagi, lho ini bagaimana ilmu marketingnya dipahami, nilai memang benar dapat A, namun ilmu kok tidak diterapkan pada diri sendiri, lihat itu sepatunya mbok ya dicuci, itu bajunya mbok distrika, rambutnya disisir, kalian ini kan jurusan marketing, masak memasarkan diri sendiri saja tidak bisa.

Mempelajari suatu ilmu itu alangkah baiknya diterapkan didalam diri sendiri terlebih dulu. orang marketing kok tidak bisa memasarkan nah itu ada yang salah belajar ilmunya.

Hal itulah yang menjadi catatan saya pribadi, bahwa ketika kita belajar suatu ilmu, lebih baik untuk penerapannya pada diri sendiri lebih dulu agar kita juga lebih memahami tidak hanya secara teori namun juga realisasi.

Jadi, kalau orang IT juga sebaiknya menerapkan ilmunya sesuai dengan teknologi informasi, sedangkan tukang jamu, seharunya juga sehat karena dia lebih sering minum jamu hihihih.

Referensi : Baper  (Bawa Perubahan) Prof. Renald Kasali Ph.D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s